A. Pendahuluan
Saat ini,
ketika dunia bisnis
dapat dikatakan hampir
tanpa batas negara karena globalisasi, sumber daya
produksi (misal uang)
yang dimiliki oleh seorang
investor di satu
negara tertentu dapat dipindahkan dengan mudah dan cepat ke negara Satu dengan
yan lainnya misalnya melalui mekanisme bursa saham. Hal ini dibuktikan dengan hasil
survey yang dilakukan oleh Deloitt e Touche Tohmatsu Internasional pada
tahun 1992 terhadap
400 perusahaan skala
menengah di dua puluh negara maju
yang melakukan bisnis
di pasar internasional
(Iqbal, et al. 1997 :5). Globalisasi membawa
implikasi bahwa hal-hal
yang dahulunya merupakan ke wenangan
dan tangungjawab tiap negara akan
dipengaruhi oleh dunia internasional.
Demikian pula
dengan pelaporan keuangan
dan standar akuntansi suatu
negara (Sadjiarto, 1999). Tentu
saja hal ini akan menimbulkan suatu
masalah ketika standar akuntansi yang dipakai di negara tersebut berbeda dengan standar
akuntansi yang dipakai
di negara lain.
Investor dan kreditor serta calon
investor dan calon
kreditor akan menemui
banyak kesulitan dalam memahami laporan
keuangan yang disajikan
dengan standar yang
berbeda-beda, sehingga hal ini
menyebabkan laporan keuangan
yang dibuat oleh perusahaan di suatu negara tidak akan
dapat diterima di negara lain, khususnya
untuk perusahaan yang multinasional. Untuk mencegah munculnya permasalahan- permasalahan yang
diakibatkan adanya perbedaan dalam
standar akuntansi yang
digunakan oleh berbagai negara,
Dewan Komite Standar Akuntansi Internasional (Board of IASC) yang didirikan
pada tahun 1973
mengeluarkan standar akuntansi
internasional (IAS).
Keluarnya IAS tersebut
diikuti dengan beberapa
intepretasi tentang IAS dalam bentuk SIC (Standing Intepretation
Committee).
Dalam
kaitannya dengan standar internasional, terdapat beberapa macam langkah yang
dilakukan oleh banyak
negara sehubungan dengan
perbedaan dengan standar yang
mereka buat sebelumnya.
Secara garis besar
langkah-langkah yang dapat
diambil tersebut dapat
dibagi menjadi harmonisasi
dan konvergensi. Banyak
hambatan yang harus
dilalui untuk bisa
melalui tahap harmonisasi ke
konvergensi standar akuntansi
internasional, dan juga kritikan terhadap standar
akuntansi internasional karena adanya
perbedaan-perbedaan serta
karakteristik dari standar
akuntansi suatu negara, namun
dilain pihak harmonisasi dan
konvergensi terhadap standar
akuntansi internasional juga akan membawa banyak manfaat terutama
untuk perusahaan multinasional.
B. Pembahasan
1.
Sejarah Perkembangan Akuntansi Internasional
Akuntansi sebenarnya sudah ada sejak
manusia mulai dapat menghiutng dan membuat suatu catatan, dengan menggunakan batu,
kayu, bahkan daun. Pada abad ke-15, terjadilah perkmebangan dan perluasan
perdangan oleh pedagang-pedagang Venesia. Perkembangan dan perluasan
perdagangan ini menyebabkan diperlukannya
suatu sistem pencatatan yang lebih baik
sehingga dengan demikian akuntansi mulai berkembang.
Perkembangan akuntansi
bermula dari Luca Paciola pada tahun 1494, ahli matematika yang mengarang
sebuah buk berjudul Summa de Aritmatica, Geometrica, proportioni et
Propotionalita. Dalam salah satu bab yang berjudul Tractatus de computies et
scriptoris, ia meperkenalkan dan mengajarkan siste pembukuan berasangan yang disebut
dengan sistem kontinental. Sistem ini diperkenalkan oleh oleh Luca Pacio;i
bersama Leonardo da Vinci, dan sudah dipakai untuk melakukan pencatatan semua
transaksi ke dalam dua bagian, yaitu debit dan kredit secara seimbang dan
menghasilkan pembukuan yang sistematis erta laporan keuangan yang terpadu.
Dengan ,enggunakan sistem ini perusahaan mendapatkan gambara tentang laba rugi
usaha, kekayaan perusahaan, serta hak pemilik.
Pertengahan abad ke-18,
terjadi revolusi industri di Inggris yang mendorong pula perkembangan
akuntansi. Pada waktu itu, para manajer publik, misalnya ingin mengetahui biaya
produksinya. Dengan mengetahui berapa besar biaya produksi, mereka dapat
megawasib efektivitas proses produksi dan menetapkan harga jila. Sejalan dengan
itu, berkembanglah akuntansi dalam bidang khusus, yaitu akuntansi biaya yang
memfokuskan diri dari pad pencatatan biaya prosuksi dan penyediaan informasi
bagi manajemen.
Revolusi industri
mengakibatkan perkembangan akuntansi semakin pesat sehingga menyebar sampai ke
Benua Amerika, khususnya di Amerika Serikat dan melahirkan sistem Anglo Saxon.
2.
Perkembangan Akuntansi di Indonesia
Indonesia awalnya menganut sistem
akuntansi kontinental, seperti yang dipakai oleh pemerintah Hindia Belanda.
Sistem ini disebut dengan tata buku yang menyangkut kegiatan-kegiatan bersifat
konstruktif, seperti proses pencatatan, peringkasan, penggolongan dan aktivitas
lain dengan tujuan menciptakan informasi akuntansi berdasarkan data. Maka,
dapat disimpulkan bahwa pembukuan merupakan bagian dari akuntansi. Akan tetapi,
dalam perkembangan selanjutnya tata buku mulai ditinggalkan orang.
Di Indonesia, baik perusahaan
atau perseorangan semakin banyak menerapkan sistem akuntansi Anglo Saxon.
Berkembangnya sistem akuntansi Anglo Saxon di Indonesia disebabkan adanya
penanaman modal asing. Sebagian besar penanaman modal asing menggunakan sistem
akuntansi Amerika Serikat. Penyebab lainnya karena sebagian besar mereka yang
berperan dalam kegiatan perkembanga akuntansi menyelasaikan pendidikannya di
Amerika, kemudian menerapkan ilmunya di Indonesia.
3.
Masalah-masalah di dalam Akuntansi Internasional
Ada beberapa masalah penting yang
perlu dihadapi oleh suatu negara di dalam akuntansi internasional, di
antaranya:
a)
Pertumbuhan dan Penyebaran Operasi multinasional
Bisnis Internasional secara
tradisional terkait dengan perdagangan luar negeri. Kegiatan yang berakar dari
masa lampau ini akan terus berlanjut tanpa terputus. Ketika di masa lalu
perdagangan jasa biasanya kalah penting, jika dibandingkan dengan perdagangan
barang. Saat ini perdagangan jasa mendapatkan keuntungan yang lebih signifikan
dan berkembang dengan tingkat yang lebih cepat daripada perdagangan barang.
Isu akuntansi yang berhubungan
dengan kegiatan ekspor dan impor adalah akuntansi untuk transaksi dalam mata
uang asing. Saat ini, bisnis internasional semakin berhubungan dengan investasi
asing langsung yang meliputi pendirian sistem manufaktur atau distribusi di
luar negeri dengan membentuk afiliasi yang dimiliki seutuhnya, usaha patungan
atau aliansi strategis. Operasi yang dilaksanakan di luar negeri membuat
manajer keuangan dan akuntan menghadapi resiko berupa semua jenis masalah yang
tidak mereka hadapi ketika operasi perusahaan dilaksanakan di dalam wilayah
satu Negara.
b)
Inovasi Keuangan
Perusahaan harus mampu menghadapi
risiko bisnis yang akan mereka terima, oleh karena itu dewasa ini perusahaan
terus melakukan inovasi-inovasi khususnya untuk keuangan agar tidak menderita
kerugian ekonomis dalam menghadapi risiko bisnis. Untuk itu perusahaan harus
memiliki tindakan preventifyaitu sistem manajemen risiko yang baik, dengan
deregulasi pasar keuangan dan pengendalian modal yang terus dilakukan,
kerentanan dalam harga komoditas, valuta asing, kredit dan ekuitas yang sering
terjadi dewasa ini. Perputaran naik turunnya harga ini memang tidak serta merta
langsung berdampak pada proses pelaporan internal, tetapi menghadapkan
perusahaan pada risiko menderita kerugian ekonomis. Hal ini memacu tujuan
aktivitas perusahaan dalam mengidentifikasi risiko yang mereka hadapi berasal
dari kerentanan tersebut, memutuskan risiko mana yang perlu dilindungi dan
mengevaluasi hasil strategi manajemen risiko yang dijalankan.
Pertumbuhan jasa manajemen risiko
yang cepat memungkinkan perusahaan dapat mempertinggi nilai perusahaan dengan
mengatur manajemen risikonya. Investor dan pemegang saham perusahaan lainnya
mengharapkan manajer keuangan untuk mengidentifikasi dan aktif mengelola
eksposur tersebut. Pada saat yang bersamaan, kemajuan dalam teknologi keuangan
memungkinkan pergeseran risiko keuangan kepada pundak orang lain. Mereka yang
memiliki kemampuan manajemen risiko sangat dihargai oleh pasar.
c)
Kompetisi Global
Sebagaimana kita tahu bahwa
kompetisi bisnis saat ini sudah bersifat global maka batas antar negara sudah
tidak lagi ada batas antar negara, fenomena ini membuat peran akuntansi
internasional menjadi semakin penting. Penentuan acuan (benchmarking), suatu
tidakan untuk membandingkan kinerja satu pihak dengan suatu standar yang
memadai, bukanlah hal yang baru. Hal yang baru adalah standar perbandingan yang
kini melampaui batas-batas nasional, sehingga perusahaan dari negara lain dapat
masuk untuk berkompetisi bisnis di Indonesia. Sehingga pertanyaan yang relevan
kini adalah “Apakah saya menambah lebih banyak nilai kepada pelanggan utama
saya dibandingkan dengan rekan saya yang berada di negara lain?” bukan lagi
“Bagaimana dengan pekerjaan yang saya lakukan bila dibandingkan dengan para
pesaing yang bertindak benar di wilayah lain?”.
Namun dalam penentuan acuan terhadap
pesaing internasional harus berhati-hati untuk memastikan bahwa perbandingan
yang dilakukan memang benar-benar dapat dibandingkan. Sebagai contoh alat ukur
kinerja yang sering digunakan adalah pengukuran ROE (Return on equity-ROE).
C. Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan di atas
dapat kita simpulkan bahwa perkembangan akuntansi internasional dari masa ke
masa mengalami pertumbuhan yang begitu pesat bahkan sampai saat ini pun
akuntansi internaional masih dalam kajian setiap negara. Kajian tersebut
menyangkut begitu pentingnya masalah akuntansi internasional yang dihadapi
setiap negara untuk diselaraskan dengan fenomena dunia bisinis saat ini.
Referensi:
http://www.slideshare.net/naufal262/akuntansi-internasional
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=115869&val=5275
Permana, Leni. 2009. Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan
Referensi:
http://www.slideshare.net/naufal262/akuntansi-internasional
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=115869&val=5275
Permana, Leni. 2009. Ekonomi untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan